it`s me

it`s me
real me

Jumat, 28 Januari 2011

jika memang ku harus menjalani hukuman itu..baiklah...

Dari Rosulullah sholollahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: 

“Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan, lalu merekapun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua, yang akhirnya mengurung mereka. 

Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal (bertawassul dengan amal) tersebut, agar Allah berkenan menggeser batu besar itu.” 

Salah seorang dari mereka lalu berdoa:

Yaa Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua ORANG TUA yang telah lanjut usia, seorang istri, dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka.

Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku (biasanya) segera memerah susunya, dan memulai dengan kedua ORANG TUAku terdahulu untuk aku minumkan, sebelum anak-anakku.

Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali, kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua ORANG TUAku sudah lelap tertidur.

Aku pun segera memerah susu seperti biasa, lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua ORANG TUAku, karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur, namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua, padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku.

Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar.

Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami, agar kami dapat melihat langit. 

Lalu Allah menciptakan sebuah celahan, sehingga mereka dapat melihat langit (namun mereka belum dapat keluar dari gua itu). 

Yang lainnya kemudian berdoa:

Yaa Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang perempuan.

Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya, tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar.

Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar, yang segera aku berikan kepadanya.

Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan), ia berkata: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah, dan janganlah kamu merenggut keperawanan, kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu.”

Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya.

Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. 

Kemudian Allah pun membuatkan sebuah celahan lagi untuk mereka (namun mereka belum dapat keluar dari gua itu). 

Yang lainnya berdoa:

Yaa Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku!

Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras, namun ia menolaknya (dan ia pergi).
           
Kemudian aku terus menanami padinya itu, sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu.

Satu hari dia datang lagi kepadaku, dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku!

Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya!

Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku!

Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya!

Lalu ia pun mengambilnya, dan dibawa pergi.

Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharapkan keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa.

Akhirnya Allah membukakan sepenuhnya celahan yang tersisa itu (dan mereka bebas).” (Shahih Muslim No.4926)

dari kisah diatas ku renungkan,bahwasanya tiada daya & upaya kecuali atas pertolongan-MU ya ROB..hanya kepada-MU.aku berpasrah diri, & hanya kepada-MU aku serahkan hidup dan matiku...
jika memang itu yg mereka mau,akan hamba jalani hukuman itu,jikalau memang itu yg mereka inginkan,hamba siap..& jika memang itu bisa menghapuskan dosaku,ku kan ikhlas menjalaninya...meski ku tau.KESAKIT HATIAN mereka takkan pernah bisa terbayar oleh apapun... bahkan Kematianku pun mungkin takkan pernah bisa tuk menebus semua KEDZOLIMAN yg pernah ku perbuat terhadap keluarga SOLEH ini.....
Yaa,,Robb..Betapa ku sangat merasa sbg mahluk yg paling berdosa di dunia ini,seakan tak pantas hamba mengharap sorga-MU,melakukan kewajiban Hamba,menjauhi Larangan-MU,dengan tubuh yg berlumur dosa....dosa yang tak terhitung besarnya,dosa2 ini bagai butiran2 pasir di gurun pasir yg luas,bagai gunung yg menjulang tinggi,sehingga ku MALU untuk menghadap-MU..tapi ku Yakin akan RAHMAT-MU yg melangit Luas...akan KUASA-MU..yg tiada batas wahai engkau Sang Pencipta Langit dan bumi beserta isinya...
yakin Engkau ya Gofuur,,yakin seyakin2nya bahwa KAU kan memaafkan hambanya yg mau bertaubat,taubat yg sebenar2nya taubat...biarlah mereka tak percaya dengan semua ini,karena hanya engkau yg maha mengetahui segala apa tentangku...dan inilah kenyataan yg sebenarnya...terimakasih ku ucapkan kepada semau yg telah banyak berperan dengan perubahan2 yg terjadi pada diri ini,guru/pembimbing ku,yg beberapa diantaranya yg telah membuka siapa diri ini(keturunan Rdn/Ningrat/darah biru,syech baing yusuf kaum pwk""that`s why My MOM  buried near Syech Baing yusuf Grave yard"")terima kasih atas segala ilmu ALLAH yg telah di ijazahkan,sehingga tak sulit bagi diri ini tuk mencapai tingkat2 tsb,,karna mungkin bakat atas leluhur2 terdahulu,"thx Mom  U finally Married with my Dad"
HAKEKATku berSyukur kepada sang Penyelamat ALLAH SWT,yg tlah memberikan taufik,hidayah & inayah-NYA serta Ilmu2`y yg senantiasa menuntun hamba kepada jalan yg lurus jalan yg KAU Ridhoi...semoga ku di jauhkan dari keTakaburan & kufur nikmat,senantiasa bersyukur pada-MU
Khususnya kepada Keluarga yg tlah banyak ku DZOLIMI,,ku Sakiti,Ku Jatuhkan Harga dirinya..
terima kasih telah memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa menemukan jati diri ini.....kini ku Sadari bahwa betapa malunya diri ini dengan segala dosa yg tlah ku perbuat yg tak hanya ku lakukan pada keluarga ini...namun alangkah indahnya jika kita ciptakan kedamaian yg selarasnya sangat ALLAH sukai..bukan permusuhan yg hanya akan menimbulkan dendam berkepanjangan...alangkah baiknya jika kita bisa saling memaafkan...bukankah orang yg paling mulia adalah orang yg mau dengan tulus memohon maaf,,??di banding orang yg memaafkan??tlah kuakui segala kesalahan ini kepada ALLAH..kini saatnya aku pribadi beserta keluarga meminta maaf.kepada semua yg membaca blog/postingan ini...khususnya keluarga bpk SHDH/juga kepada klwrga Ibunda B.Nurbaetty yg juga tlah ku dzolimi(bahkan membuatku tak bisa tidur beberapa hari,karna kau tak memiliki Ayah/Yaa ALLAH ku dzolimi seorang anak yatim)namun akhirnya mau dengan tulus memaafkanku setelah ku datang dengan itikad baik tanpa ada maksud apapun,meski aku dan putrimu pernah menjalin hub..bukan berarti permintaan maaf ini ingin kembalinya aku pada putrimu,hanya sebatas meminta maaf & menjalin kembali tali SILATURAHMI yg sempat terputus...sekali lagi trimakasih.ALLAH tlah membukakan mata hati kalian,,)
juga kepada semua orang yg telah ku dzolimi..namun khusus kepada klwrga I.B.U(ibunda jian)mungkin ku belum bisa kesana,karena menjaga fitnah,mungkin nanti saatnya setelah aku sudah menikah,karena ku tahu kini kau sudah bercerai dengan suamimu..pesanku : jagal & rawatlah jian dengan baik,lagipula kau sedang dekat dengan seseorang sekarang,..jadi takkan ku ganggu..pokonya semuanya yg mungkin tak ku ingat. & tak bisa ku sebutkan satu persatu...berharap kalian membaca ni..(cape ngetikna..Heu :P)
kalian tahu?? SORGA YG ALLAH JANJIKAN LEBIH INDAH DARI SORGA DUNIA YG SELAMA INI KITA RASAKAN...maka dari itu hanya Ridho-NYA lah yg sepatutnya kita harapkan....
26tahun  cukup bagiku merasakan indahnya DUNIA,tanpa memikirkan AKHIRAT..kini saatnya memperbaiki diri,memperbaiki akhlak...menjadi insan yg di cintai ALLAH...karena bagi Hamba  sepertiku saat ini dan seterusnya hanya Ke-REDHO-an NYA lah yang hamba harapkan...

sedikit cerita ada salah satu SMS yg ku kira darinya menjelang ku berpisah denganya yg ternyata dari pakumis"hehee maaf"..disitu di sebutkan..jikalau memang kita berjodoh,itu sudah menjadi ketentuan ALLAH & kita harus bisa senantiasa berharap & berdo`a agar kita bisa bersatu..bukankah kita ingin hub.qta di ridhoi NYA juga ortu kita??,maka dari itu qta hub,sewajarnya(kurang lebih seperti itu"poho deui detail na,,aya dina HP doraemon") sejak itu aku seakan tak mau tau..karena Cinta ku pada perempuan cantik itu telah membutakan mata & hatiku..jadi wajar jika sampai akhirnya ku berbuat bodoh tanpa memikirkan akibat yang akan di timbulkan...namun itu dulu sebelum ku mengerti bahwasanya CINTA yg HAKIKAT hanya lah untuk ALLAH sang pencipta Alam.. segala apa yg ada di dunia ini hanya titipan semata..bersifat sementara...semua kan kembali pada-NYA..inalillahi waina lilahi ro`jiun..seperti ibuku,anakku..semua tlah di ambil dari ku,,namun ku takkan pernah menyalahkan-NYA karena mutlak semuanya hanya milik-NYA..kembali pada-NYA..
mungkin ALLAH cemburu saat ku terlalu mencintai dia..kini ku tau ALLAH maha Adil...telah Hadir seseorang kan kelak kan ku jaga kehormatan,kesucian juga mahkota yang sepatutnya ku jaga..takkan pernah kusentuh dia,&menyayanginya sepenuh hati,namun mencintainya separuh hati..karena sepenuhnya cinta ini hanya untuk-NYA..jika mungkin kita berjodoh.mungkin memang jalannya harus seperti ini,karena aku selalu bersyukur jika tidak ada kejadian seperti ini.mungkin selamanya aku kan terjerumus kedalam jurang gelap yg dalam tanpa bisa keluar...
ALHAMDULILLAH wa syukurillah....
sekali aku mohon beri kesempatan untuk ku menebus semuanya dengan perubahan ini..bukankah ini yang kalian mau??aku menjadi orang soleh??bukankah ini yg sekam ini kalian inginkan??aku menjadi seorang yg berAkhlak baik??namun semua aku serahkan pada ALLAH karana dia yg memiliki RAGA ini....
wassalam/....

Kamis, 27 Januari 2011

tak hanya ku baca tapi ku renungkan & amalkan

Etika Seorang Muslim Pada Diri Sendiri

Orang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dunia dan akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya, pengotorannya, dan kebrengsekannya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum, demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka), demikianlah Kami memberi balasan kepada orang orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-A’raaf: 40-42).

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shallih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Sabda Rasulullah saw., “Semua dan kalian masuk surga, kecuali orang-orang yang tidak mau.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak mau masuk surga, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersada, “Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, ia tidak mau (masuk surga).” (HR Bukhari).

“Semua manusia beramal, dan menjual dirinya memperbaiki dirinya, atau membinasakannya.” (HR Muslim).

Orang Muslim meyakini bahwa sesuatu yang bisa membersihkan dirinya, dan menyucikannya ialah iman yang baik, dan amal shalih. Ia juga meyakini, bahwa sesuatu yang mengotori dirinya, dan merusaknya ialah keburukan kekafiran dan kemaksiatan, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Huud: 114).

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14).

Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya jika seorang Mukmin mengerjakan dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti (dari dosa tersebut), dan beristighfar, maka hatinya bersih. Jika dosanya bertambah, bertambah pula noda hitamnya, hingga menutupi hatinya.” (HR An-Nasai dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Noda hitam tersebut tidak lain adalah tutupan hati yang disebutkan Allah Ta‘ala dalam surat Al-Muthaffifin di atas.

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, serta bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim).

Oleh karena itulah, orang Muslim tidak henti-hentinya membina dirinya, menyucikannya, dan membersihkannya. Sebab, ia orang yang paling layak membinanya, kemudian ia memperbaikinya dengan etika-etika yang membersihkannya, dan membersihkan kotoran-kotorannya. Ia menjauhkan diri dan apa saja yang mengotorinya, dan merusaknya seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, ucapan-ucapan yang rusak, dan amal perbuatan yang rusak. Ia melawan dirinya siang malam, mengevaluasinya setiap saat, membawanya kepada perbuatan-perbuatan yang baik, mendorongnya kepada ketaatan, menjauhkannya dari segala keburukan dan kerusakan.

Dalam memperbaiki dirinya, membinanya, dan membersihkannya, orang Muslim menempuh jalan-jalan berikut:

Taubat

Yang dimaksud dengan taubat di sini ialah melepaskan diri dan semua dosa dan kemaksiatan, menyesali semua dosa-dosa masa lalunya. dan bertekat tidak kembali kepada dosa di sisa-sisa umurnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhan kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At Tahrim: 8).

“Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nuur: 31).

“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR Muslim).

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dan barat, maka Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim).

“Sesungguhnya Allah membuka Tangan-Nya dengan taubat bagi orang yang berbuat salah di malam hari hingga siang hari, dan bagi orang yang berbuat salah di siang hari hingga malam hari, hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim).

“Allah lebih berbahagia dengan taubat (kembalinya) hamba-Nya daripada seseorang di tempat sepi dan rawan bahaya dengan hewan kendaraan yang memuat makanan dan minumannya, kemudian ia tidur. Ketika ia bangun, hewan kendaraannya hilang. Ia pun mencarinya hingga ia kehausan. Ia berkata, ‘Aku akan kembali ke tempatku semula, hingga aku mati.’ Kemudian ia letakkan kepalanya di atas lengannya untuk mati. Ketika ia bangun, temyata hewan kendaraannya ada di sisinya lengkap dengan makanan dan minumannya. Jadi, Allah lebih berbahagia dengan taubat (kembalinya) hamba yang Mukmin dan (kebahagiaan) orang tersebut dengan (kembalinya) hewan kendaraan dan bekalnya.” (Muttafaq Alaih).

Diriwayatkan, bahwa para malaikat rnengucapkan ucapan selamat kepada Nabi Adam atas taubatnya, karena Allah menerima taubatnya. (Al-Ghazali dalam Ihya’-nya).

Muraqabah

Maksudnya, orang Muslim mengkondisikan dirinya merasa diawasi Allah Ta ‘ala di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupannya, bahwa Allah Ta‘ala melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan mengamati apa saja yang dikerjakan oleh semua jiwa. Dengan cara seperti itu, diri orang Mukmin selalu merasakan keagungan Allah Ta ‘ala dan kesempumaan-Nya, tentram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketentraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dan selain-Nya.

Inilah yang dimaksudkan dengan Islamisasi wajah dalam firman Allah Ta’ala,

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (An-Nisa’: 125).

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dan orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya Ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22).

Itulah intisari seruan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 235).

Atau dalam firman-Nya, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur ‘an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu pada waktu kalian melakukannya.” (Yunus: 22).

Atau dalam sabda Rasulullah saw., “Sembahlah Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Muttafaq Alaih).

Jalan itulah yang dilalui para pendahulu kita dan para Salafush shalih. Mereka membawa diri mereka kepadanya hingga akhir hayat mereka, dan mereka berhasil mencapai derajat muqarra bin (hamba-hamba yang dekat dengan Allah). Bukti-bukti berikut bersaksi untuk mereka:

1. Ditanyakan kepada Al-Junaid, “Bagaimana kiat menahan pandangan?” Al-Junaid, “Yaitu pengetahuanmu, bahwa pandangan Dzat yang melihatmu itu lebih dahulu dan lebih cepat daripada penglihatanmu kepada sesuatu yang engkau lihat.”

2. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Hendaklah engkau merasa diawasi oleh Dzat yang mengetahui apa saja yang ada padamu. Hendaklah eng kau berharap kepada Dzat yang memenuhi (harapanmu). Dan hendaklah engkau takut kepada Dzat yang memiliki hukuman.”

3. Ibnu Al-Mubarak berkata kepada seseorang, “Hai si Fulan, hendaklah engkau merasa diawasi Allah.” Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Al-Mubarak tentang apa yang dimaksud dengan pengawasan Allah, kemudian Ibnu Al-Mubarak menjawab, “Jadilah engkau seperti orang yang bisa melihat Allah selama-lamanya.”

4. Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggem bala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami.’ Penggembala tersebut berkata, ‘Kambing-kambing ini bukan milikku, namun milik majikanku.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Katakan saja kepada majikanmu, bahwa kambingnya dimakan serigala.’ Penggembala yang budak tersebut berkata, ‘Kalau begitu, di mana Allah?’ Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut, dan memerdekakannya.”

5. Dikisahkan bahwa salah seorang shalih berjalan melewati orang-orang yang sedang melempar, sedang salab seorang dan mereka duduk menyendiri dari mereka. Orang shalih tersebut pergi kepada orang tersebut, dan ingin mengajaknya bicara, namun orang tersebut lebih dahulu berkata kepadanya, “Dzikir kepada Allah itu jauh lebih nikmat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Engkau sendirian di sini?” Orang tersebut menjawab, “Aku bersama Tuhanku dan dua malaikat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Siapa yang mendahului orang-orang tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Yaitu orang-orang yang diampuni Allah.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Di manakah jalan itu?” Orang tersebut membeni isyarat ke langit, kemudian ia berdiri dan pergi.

6. Dikisahkan bahwa ketika Zulaikha berduaan dengan Yusuf AS, ia pergi ke patung, kemudian menutupnya dengan kain. Nabi Yusuf AS bertanya, “Engkau ada apa? Engkau malu kepada pengawasan benda padat kepadamu, dan tidak malu kepada pengawasan Raja Teragung (Allah) kepadamu?”

Salah seorang shalih menyenandungkan syair,

Jika Anda menyendiri dengan zaman pada suatu hari,
Anda jangan katakan, ‘Aku telah menyendiri,’
Namun katakan, ‘Zaman mengawasiku.’
Sedetik pun Anda jangan beranggapan bahwa Allah lengah
Dan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang Anda rahasiakan.
Tidakkah Anda lihat, bahwa hari ini cepat berlalu
Dan bahwa hari esok sudah dekat bagi orang-orang yang menunggunya?

Muhasabah (Evaluasi)

Karena orang Muslim siang-malam bekerja untuk kebahagiaannya di akhirat, kemuliaan dari Allah Ta‘ala, keridhaan-Nya, dan karena dunia adalah tempat beramal, maka ia harus melihat ibadah-ibadah wajib seperti penglihatan pedagang kepada modal bisnisnya, ia melihat ibadah-ibadah sunnah seperti penglihatan pedagang terhadap keuntungan bisnisnya, dan melihat kemaksiatan dan dosa sebagai kerugian dalam dunia bisnis. Kemudian ia berduaan dengan dirinya sesaat di akhir harinya guna mengadakan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas amal perbuatannya sepanjang siang harinya.

Jika ia melihat dirinya kurang mengerjakan ibadah-ibadah wajib, ia mencela dirinya, dan memarahinya, kemudian memaksanya melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut saat itu juga jika ibadah-ibadah wajib tersebut termasuk yang harus ditunaikan saat itu juga, dan jika ibadah ibadah wajib tersebut tidak termasuk yang harus ditunaikan saat itu juga maka ia harus memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah.

Jika ia melihat dirinya kurang dalam mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, maka ia mengganti kekurangannya dan memaksa dirinya melakukannya. Jika ia melihat kerugian karena ia mengerjakan dosa, maka ia beristighfar, menyesalinya, bertaubat, dan mengerjakan amal shalih yang bisa memperbaiki apa yang telah dirusaknya.

Inilah yang dimaksud dengan muhasabah terhadap diri sendiri. Inilah salah satu cara perbaikan diri (jiwa), pembinaannya, penyuciannya, dan pembersihannya, berdasarkan dalil-dalil berikut:

1. Firman Allah Ta‘ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Hasyr: 18).

“Hendaklah setiap diri memperhatikan” adalah perintah untuk mengadakan muhasabah (evaluasi) terhadap diri atas apa yang diperbuatnya untuk menyongsong hari esok.

2. Firman Allah Ta‘ala, “Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nuur: 31).

3. Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah, dan beristightighfar kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam satu hari.” (Diriwayatkan Muslim).

4. Umar bin Khattab ra berkata, “Evaluasilah (hisablah) diri kalian, sebelum kalian dievaluasi.”

Yang semakna dengannya ialah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad yang baik dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda,

“Orang cerdas ialah yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedang orang lemah ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan berkhayal kosong kepada Allah.”

5. Adalah Umar bin Khaththab ra, jika waktu malam telah tiba, ia memukul kedua kakinya dengan berkata kepada dirinya, “Apakah yang telah engkau kerjakan siang tadi?”

6. Adalah Thalhah r.a. jika disibukkan oleh perkebunannya hingga ia tidak bisa menghadiri shalat jama’ah, maka ia mengeluarkan sedekah untuk Allah Ta’ala dari perkebunannya. Ini tidak lain adalah muhasabah darinya terhadap dirinya, dan kemarahannya terhadap dirinya.

7. Dikisahkan bahwa Al-Ahnaf bin Qais mendekat ke lampu, kemudian ia meletakkan jari-jarinya di dalamnya hingga merasakan panasnya, sambil berkata, “Hai Al-Ahnaf, apa yang mendorongmu mengerjakan ini dan itu pada hari ini? Apa yang mendorongmu mengerjakan ini dan itu pada hari ini?”

8. Dikisahkan bahwa salah seorang dari orang-orang shalih berjihad, tiba-tiba terlihat olehnya seorang wanita, dan ia pun melihatnya, kemudian mengangkat tangannya, menampar matanya, dan mencukilnya, sambil berkata, “Sesungguhnya melihat kepada sesuatu yang merugikanmu.”

9. Salah seorang dari orang shalih berjalan melewati rumah, kemudian ia berkata, “Kapan rumah ini dibangun?” Usai berkata seperti itu, ia sadar, dan buru-buru berkata kepada dirinya, “Engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada kaitan denganmu. Aku pasti menghukummu dengan berpuasa setahun.” Ia pun berpuasa selama setahun.

10. Dikisahkan bahwa salah seorang dari orang shalih pergi ke padang pasir yang panas, kemudian ia berguling-guling di atasnya, sambil berkata, “Diriku, rasakan ini dan Neraka Jahannam itu lebih panas dari panas padang pasir ini. Engkau busuk di malam hari dan pengangguran di siang hari.”

11. Salah seorang dari orang shalih menghadapkan penglihatannya ke atap rumah, tiba-tiba ia melihat seorang wanita, dan ia pun melihat kepadanya. Kemudian ia menghukum dirinya dengan tidak melihat ke langit selagi ia hidup.

Begitulah, para salafush shalih mengevaluasi diri mereka atas ketidakseriusannya, memarahinya atas kelalaiannya, mewajibkannya bertakwa, dan melarangnya mengikuti hawa nafsu, karena mengikuti firman Allah Ta’ala,

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dan keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’ at: 40-41).

Mujahadah (Perjuangan)

Orang Muslim mengetahui bahwa musuh besarnya ialah hawa nafsu yang ada dalam dirinya, bahwa watak hawa nafsu adalah condong kepada keburukan, lari dari kebaikan, dan memerintahkan kepada keburukan seperti dikatakan Zulaikha dalam Al-Qur’an,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Yusuf: 53).

Selain itu, watak hawa nafsu ialah senang malas-malasan, santai, dan menganggur, serta larut dalam syahwat, kendati di dalamnya terdapat kecelakaan dan kebinasaannya.

Jika orang Muslim mengetahui itu semua, maka ia memobilisasi diri untuk berjuang melawan hawa nafsunya, mengumumkan perang, mengangkat senjata untuk melawannya, dan bertekat mengatasi seluruh perjuangannya melawan hawa nafsu, dan menantang syahwatnya. Jika hawa nafsunya menyukai kehidupan santai, maka ia membuatnya lelah. Jika hawa nafsunya menginginkan syahwat, maka ia melarangnya. Jika dirinya tidak serius dalam ketaatan dan kebaikan, maka ia menghukumnya dan memarahinya, kemudian ia mewajibkannya mengerjakan apa yang tidak ia kerjakan dengan serius, dan mengganti apa yang ia sia-siakan dan ia tinggalkan. Ia bawa dirinya ke dalam pembinaan seperti itu hingga dirinya menjadi tentram, bersih, dan menjadi baik. Itulah tujuan utama mujahadah (perjuangan) terhadap hawa nafsu (diri).

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihacl untuk (mencari keria’haan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69).

Ketika orang Muslim berjuang melawan dirinya agar menjadi baik, bersih, suci, tentram, berhak mendapatkan kemuliaan Allah Ta‘ala, dan keridhaan-Nya, maka ia mengetahui bahwa ini adalah jalan orang-orang shalih dan orang-orang yang jujur, kemudian ia berjalan di atas jalan tersebut karena ingin meniru mereka dan menapaktilasi jejak-jejak mereka. Rasulullah saw. saja melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak. Tentang hal tersebut, Rasulullah saw. pernah ditanya, kemudian beliau menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (Diriwayatkan Muslim).

Adakah mujahadah yang lebih tinggi dari mujahadah Rasulullah saw. di atas? Demi Allah, tidak ada.
Ali bin Abu Thalib ra tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw., “Demi Allah, aku melihat Rasulullah saw. dan aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan mereka. Pada pagi hari, rambut mereka kusut, berdebu, dan pucat, karena tidak tidur semalam suntuk untuk sujud, dan berdiri shalat, membaca Kitabullah, dan istirahat di antara kaki mereka dengan kening mereka. Jika mereka dzikir kepada Allah, mereka bergoyang sebagaimana pohon bergoyang ketika tertiup angin. Mata mereka bercucuran dengan airmata hingga pakaian mereka basah kuyup.”

Abu Ad-Darda’ ra “Tanpa tiga hal, aku tidak tertarik hidup, meskipun sehari saja, yaitu haus untuk Allah di siang hari yang panas, sujud untuk-Nya di pertengahan malam, dan duduk dengan orang-orang yang memilih ucapan-ucapan yang bagus, sebagaimana buah-buahan yang bagus dipilih.”

Umar bin Khaththab ra memarahi dirinya karena’ ia ketinggalan shalat Ashar berjama’ah, kemudian bersedekah dengan area tanahnya yang harganya kira-kira dua ratus dirham.

Jika Abdullah bin Umar ra ketinggalan shalat jama’ah, ia menghidupkan (tidak tidur untuk ibadah) malam harinya. Pada suatu hari, ia menunda shalat Maghrib hingga dua bintang terbit, kemudian ia memerdekakan dua budaknya.

Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Semoga Allah merahmati orang-orang yang dikira manusia sakit, padahal mereka tidak sakit.” Itu tidak lain adalah pengaruh mujahadah mereka terhadap dirinya.
Rasulullah saw. bersabda, “Manusia terbaik ialah orang yang panjang umurnya, dan baik amal perbuatannya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).

Uwais Al-Qarni Rahimahullah berkata, “Malam mi adalah malam ruku’.” Kemudian ia hidupkan seluruh malam tersebut dengan ruku’. Pada malam berikutnya, ia berkata, “Malam ini adalah malam sujud.” Ia pun menghidupkan seluruh malam tersebut dengan sujud.

Tsabit Al-Bunani Rahimahullah berkata, “Aku perah bertemu dengan orang-orang di mana salah seorang dari mereka shalat, kemudian ia tidak bisa pergi ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak. Salah seorang dan mereka qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri. Keseriusan mereka dalam ibadah sampai pada tarap jika dikatakan kepada mereka bahwa kiamat akan terjadi besok, maka mereka tidak akan menambah ibadahnya. Jika musim dingin tiba, ia berdiri di atap rumah agar ia diterpa hawa dingin sehingga tidak bisa tidur. Jika musim panas tiba, maka ia berdiri di bawah atap rumah, agar panas matahari membuatnya tidak bisa tidur. Salah seorang dan mereka meninggal dunia dalam keadaan sujud.”

Istri Masruq Rahimahullah berkata, “Masruq tidak ditemui, kecuali kedua betisnya bengkak karena saking lamanya qiyamul lail. Demi Allah, pada suatu kesempatan, saya berdiri di belakangnya ketika ia berdiri qiyam ullail, kemudian aku menangis karena iba terhadapnya.”

Jika salah seorang dan salafush shalih telah berumur empat puluh tahun, maka ia melipat kasurnya, dan tidak pernah lagi tidur di atasnya.

Dikisahkan bahwa salah seorang istri dan para salafsuh shalih yang bernama Ajrah yang telah buta berdoa dengan suara yang memilukan jika waktu sahur telah tiba, “Ya Allah, kepada-Mu orang-orang ahli ibadah mengarungi kegelapan malam untuk berlomba kepada rahmat-Mu, dan karunia ampunan-Mu. Ya Allah, dengan-Mu, aku meminta kepada-Mu, dan tidak kepada selain-Mu, hendaknya Engkau menjadikanku orang terdepan di rombongan orang-orang as-sabiqun (orang-orang yang cepat kepada kebaikan), mengangkat-Ku di sisi-Mu di ‘illiyyin di derajat makhluk-makhluk yang didekatkan kepada-Mu, dan menyusulkan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Engkau Dzat yang paling penyayang, Dzat yang paling agung dan Dzat yang paling mulia, wahai Dzat yang paling mulia.” Usai berdoa seperti itu, ia sujud. Ia tidak henti-hentinya berdoa, dan menangis hingga waktu shalat Shubuh tiba.

Ampunanku....

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى
(Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan)

عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ  :اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
(Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) '." (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)  

Mari Bertaubat..Sahabatku...Takutlah Akan ALLAH,,jauhi larangan-NYA..& Lakukan perintah-NYA

Tidak sedikit org2 yg saleh adalah org2 yg sangat jahat saat mudanya,setelah bertaubat ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada ALLAH.beberapa diantara mereka akhirnya menjadi tokoh panutan karna kesucian dan prilaku2 membebaskan.
konon Sunan kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang2 saleh yg berhasil tercerahkan dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan kepada masyarakat pada zamannya.
hidup suci dalam islam bisa di raih oleh sapa saja,kesucian hidup bukanlah hak istimewa setiap orang.Jalan tsb terbuka bagi siapa saja,tidak hanya milik para Alim Ulama,bahkan Orang jahat sekalipun,ia bisa menapak cara hidup suci.asal dia bersedia bertaubat,dan bersungguh2..
bagi ALLAH kesalehan bukan karna sama sekali tidak berbuat dosa.akan tetapi orang saleh @ org yg setiap kali berbuat dosa,ia menyesali dan selanjutnya tidak akan mengulagi perbuatan dosa itu lagi.
Pepatah arab Menegaskan"Manusia tempatnya salah & lupa" pepatah diatas bukan berarti manusia dibiarkan utk slalu berbuat salah dan dosa akan tetapi kesalahan dalam diri manusia harus di tebus dengan tobat..penyesalan dan penghentian..
Rasulullah Bersabda"setiap anak adam adalah sering berbuat salah dan sebaik2nya org yg berbuat salah @ org2 yg bertaubat (H.R.Tirmidzi)
taubat yg sungguh2 di mata ALLAH @ pembersihan diri yg sangat di cintai..dalam ISLAM pertaubatan bukan di lakukan melalui org lain,tetapi dari diri sendiri secara langsung kepada ALLAH..
Apalagi ISLAM tidak mengenal penebusan dosa dengan sejumlah uang.ISLAM sungguh sangat berbeda dengan cara2 pertaubatan`y dibanding agama2 lain.ISLAM memandang pertaubatan adalah persoalan yg sangat personal antara seorang hamba & tuhanNYA..& Tuhan Dalam ISLAM @ Tuhan yg bisa di dekati sedekat mungkin,bukan tuhan yg berada diatas langit...tak terjangkau...
Sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya ALLAH lebih suka menerima taubat hambaNYA.melebihi dari kesenagan seseorang yg menemukan kembali ontanya yg hilang di tengah hutan".(H.R.BUKHORI & MUSLIM)
ISLAM tidak menganggap taubat sebagai langkah yg terlambat,kapanpun kesadaran itu muncul.HISAB(perhitungan akan amal2 jelek akan di mata ALLAH akan terhapuskan dengan Taubat kita..Lembaran baru hidup terbuka lebar,langkah anyar terbentang...Sabda Nabi (SAW) : Barang siapa yg bertaubat sebelum matahari terbit dari barat..maka ALLAH akan menerima taubat & memaafkannya (H.R.MUSLIM)..
Bertaubat,demikian halnya..di jadikan amalan dzikir oleh Rasulullah SAW disetiap harinya...Beliau beristighfar kendati beliau tidak melakukan dosa.karna lewat istighfar nabi memohan ampun & mengungkapkan kerendahan hati yg sangat dalam di hadapan yg maha AGUNG.
Sabda Nabi SAW : Hai sekalian manusia bertaubatlah kamu kepada ALLAH dan mintalah Ampun kepadaNYA..maka sesungguhnya saya bertaubat & beristighfar 100x setiap hari...(H.R.MUSLIM)
firman ALLAH  : Katakanlah ! Hai Hamba2KU yg berdosa terhadap jiwanya sendiri,janganlah kamu berputus asa dengan rahmat ALLAH.sesungguhnya ALLAH mengampuni segala dosa.sesungguhnya DIA maha pengampun lagi maha Penyayang..(Q.S Al.Zumar-53)
Hai Orang2 yg beriman,bertaubatlah kamu dengan seikhlas2nya taubat..semoga TuhanMU akan menghapuskanmu dari kejahatan perbuatan2mu...dan akan memasukanmu ke dalam syurga yg didalamnya mengalir sungai2(Q.S.Al.Thalaq-8)
Dalam memperbaiki Hak ALLAH & Hak bani adam :Apabila kesalahan/dosa itu berhubungan dengan ALLAH,maka ada 3 syarat yg harus di penuhi yaitu :
1. Harus menghentikan segala perbuatan maksiat (Mencuri,berjudi,berzinah,dzolim,memfitnah.dll)
2. Harus dengan bersungguh2 mengakui & menyesali prilaku/perbuatan dosa yg telah di kerjakan.
3. Berniat dengan tulus serta bertekad untuk tidak kembali melalukan perbuatan2 maksiat/dosa tsb...

Dan apabila kesalahan itu berhubungan dengan bani Adam..maka syaratnya bertambah 1...yaitu harus menyelesaikan urusannya dengan orang yg berhak dan meminta maaf ataw halalnya,serta mengembalikan segala apa yang harus di kembalikan...
Sabda Nabi SAW : "Orang yg bertaubat dari dosa,seperti Org yg tidak berdosa..Dan orang yg meminta ampunan dari dosanya,sedangkan dirinya tetap melakukan dosa.seperti org yg mempermainkan TUHANnya"(H.R.BAIHAQI)

Ya ALLAH...Terimalah Taubatku..
Taubatan Nasuha..
Ampunilah segala Dosaku...
Ya Rob...dengan segala Rahmat-Mu
hamba bersujud memohon Ampunan-MU
bukakan pintu Maghfiroh-MU
tak pernah lelah hamba beristighfar di setiap harinya,,,
yakin ENGKAU kan mengampuni wahai Yaa Gofaar(yg Maha Pengampun)....

Valencia "Will We Ever Know How" lyrics

Once all I wanted was really to stay when I find out it's not just a phase
I just can't see things working out the way I planned them in my head
So forget it
I'm runnin'
And I'm never looking back

All that I want is something to believe
And I can't take much more of
You're waiting for me to see what times brings
But your relief it evens the score up
One thing I know, I'll be fine
This is just the story of my life

Some days it takes a little time to forget how
Hard we concentrated on the end
I still can't see things working out the way I planned them in my head
So forget it
I'm runnin'
And I'm never looking back

You know this all could be
A possibility

All that I want is something to believe
And I can't take much more of
You're waiting for me to see what times brings
But your belief it evens the score up
One thing I know, I'll be fine

[ From: http://www.metrolyrics.com/will-we-ever-know-how-lyrics-valencia.html ]

This is just the story of my life

Cause I look up and watch
And see the stars up above
I know that it's wrong
To wish upon the shooting
cause they burn out so quick
To fast for me to get my wish
I guess they are just there for hoping

We're all hoping
We're all hoping

This could be
A possibility
(Will this all work out, how will we ever know?)
This could be
A possibility
This could be
A possibility
This could be
This could be

aku kan bawa kamu kesini(A.F)

cipurut
and say "would You Marry Me"?
and wearing this ring I buy for You ? ?

TAWASULAN ach. . . .siap2...yg pasti ISTIQOMAH


Biar Hanya Aqu & ALLAH yg Tw